GoodPR: Kasus Burger King. Adapun praktik public relations (PR) yang baik dapat dilihat pada cuitan restoran cepat saji Burger King beberapa waktu lalu yang dengan sukarela mengajak pelanggannya untuk membeli makanan dari perusahaan kompetitor seperti McDonalds, KFC, Wendy's, Pizza Hut, dan restoran cepat saji lainnya. Terkini Tanggal; Label; Pengarang; Boigrafi Kece: Lana Del Rey. Mar 28th. Kasus Public Relations: Citra Seorang Polisi Membaik kah? Mar 28th. Masalah Isu Sosial: Apakah Kapitalisme muncul kembali? Mar 28th. Sedekah Yuk!! Mar 28th. Tips Merawat Earphone. Mar 27th. Review Samsung J5 (2015): Setelah 3 tahun Dalammempelajari etika profesi, seperti etika profesi dalam dunia public relations, maka kita dapat mengambil contoh dari beberapa kasus yang sudah terjadi di sekitar kita. Salah satunya yaitu kasus yang sudah berlangsung cukup lama yaitu kasus Lumpur Lapindo. Kasus tersebut sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Kasusini berawal dari Surat Keberatan yang dilayangkan oleh perusahaan kepada konsumen yang mengulas produknya melalui akun YouTube milik konsumen. Sebenarnya, tidak ada yang salah dari ulasannya. Konsumen bahkan memberikan ulasan positif jika ia nyaman menggunakan produk tersebut karena sesuai dengan struktur wajahnya. Menanggapiperseteruan Garuda vs Youtuber ini, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI), Jojo S.Nugroho buka suara. Ia menyesalkan tindakan tersebut berakhir ke pihak berwajib, padahal sebetulnya masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. PengelolaanPelayanan Publik Sumedang Masuk 30 Terbaik Nasional. Piagam penghargaan diterima langsung oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir di Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta, Kamis (16/6). detikSulselKamis, 09 Jun 2022 00:20 WIB. . KEGIATAN public relations PR atau hubungan kemasyarakatan menjadi penting bagi perusahaan di saat pandemi covid-19. Perusahaan mesti mampu menjalin komunikasi internal kepada karyawan dan publik sekaligus dalam menjawab tantangan terkini. Menurut Head of Corporate Public Relations at PT Indofood Sukses Makmur Tbk Nurulita Novi Arlaida, tantangan komunikasi internal di era pandemi yaitu ada batasan pertemuan dalam situasi PSBB, hambatan teknologi, mesti menjangkau dan melibatkan karyawan di mana pun lokasi mereka, dan mengatur jadwal bekerja di kantor dan rumah WFO dan WFH. "Karena itu, organisasi harus memiliki strategi komunikasi internal yang jelas dalam menguraikan saluran yang digunakan untuk apa dan kapan," ujarnya saat webinar bertema PR is king internal communication is princess yang digelar Majalah Mix-Marketing Communication, Rabu 3/3. Komunikasi internal, imbuh Nurulita, membuat karyawan tetap terhubung dan terinformasi serta menciptakan pemahaman bersama tentang tujuan, nilai, pedoman perusahaan. Komunikasi internal sangat penting untuk menjaga karyawan tetap mengetahui tentang inisiatif terbaru perusahaan. Salah satu manfaat komunikasi internal yaitu karyawan akan merasa diakui, lebih mempercayai pemberi kerja mereka, menjadi lebih termotivasi, dan tertarik pada pekerjaan mereka, dan meningkatkan advokasi merek secara keseluruhan. "Ada bukti empiris tentang hubungan positif antara komunikasi internal dan efektivitas organisasi," tandasnya. Pentingnya peran PR di masa pandemi turut mendorong Majalah Mix-Marketing Communication menggelar Indonesia PR of The Year yang ke-14. Pada perhelatan tahunan ini, makin banyak program PR yang dikirimkan dan terjaring. Makin banyak pula praktisi PR yang terjaring melalui pooling kepada para wartawan. Ada lima kategori untuk anugerah PR Program, yaitu Creative PR Program, Marketing PR Program, Social PR Program, Media Relations Program, dan Owned Media. Creative PR adalah program-program kreatif untuk membangun citra dan reputasi perusahaan maupun brand, termasuk menangani krisis dan program PR internal. Marketing PR yaitu program PR yang ditujukan untuk kepentingan marketing. Social PR yaitu program pembangunan reputasi perusahaan melalui komunikasi inisiatif sosial perusahaan CSR. Media Relations yaitu program PR untuk membangun dan menjaga hubungan baik perusahaan dengan awak media. Owned Media yaitu program komunikasi perusahaan melalui media yang dimiliki perusahaan, dalam hal ini in house magazine. Kriteria penilaian didasarkan pada tiga hal, yakni Konsep konsep program dilihat dari kreativitasnya, Pesan artikulasi pesan yang disampaikan melalui press release maupun melalui statement spoke person-nya, dan Hasil coverage media yang diwakili antara lain oleh online publishers. Sejumlah pemenang Indonesia PR Program of The Year 2021 ialah Indofood, Treasury, dan Sinar Mas Land. RO/OL-14 JAKARTA, – Krisis yang sedang mencuat ini dikupas di IG Live milik bimoprasetio dengan Widyaretna Buenastuti, Director-Senior Consultant Inke Maris & Associates yang telah mengantongi pengalaman sebagai konsultan hukum dan legal director di perusahaan multinasional, sebagai pembicara. Kasus ini berawal dari Surat Keberatan yang dilayangkan oleh perusahaan kepada konsumen yang mengulas produknya melalui akun YouTube milik konsumen. Sebenarnya, tidak ada yang salah dari ulasannya. Konsumen bahkan memberikan ulasan positif jika ia nyaman menggunakan produk tersebut karena sesuai dengan struktur wajahnya. Permasalahan muncul ketika ia mendapatkan surat keberatan yang dikirimkan oleh bagian legal dari perusahaan tersebut via e-mail, lima bulan setelah ia mengunggah videonya. Isi dari surat itu adalah keberatan dari segi pengambilan video, adanya suara yang mengganggu, hingga setting lokasi yang dinilai kurang tepat. Karena faktor tersebut, konsumen diminta untuk memperbaiki dan/atau menghapus videonya. Sontak surat keberatan yang kemudian diunggah oleh konsumen melalui media sosialnya membuat wargenet meradang. Mereka menganggap produsen produk yang berorientasi pada kegiatan mendaki gunung, sepeda motor, dan alam terbuka ini arogan. Pahami Tugas dan Fungsi Pertanyaannya, dapatkah legal berkomunikasi langsung dengan konsumen? Menurut Wid, begitu Widyaretna karib disapa, untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus kembali kepada uraian tugas bagian legal, dan fungsinya bagi perusahaan. Antara lain, melakukan antisipasi, mitigasi dan memproteksi perusahaan dari kemungkinan risiko adanya gugatan hukum terhadap perusahaan dan karyawannya. Serta, memastikan perusahaan patuh terhadap aturan hukum yang berlaku. “Jadi, klien stakeholder legal itu internal perusahaan,” ujarnya. Di sisi lain, seperti yang dikutip dari tulisan Wid di situs berjudul “Bolehkah Orang-Legal Kontak Langsung dengan Konsumen?”, personel legal juga harus memastikan perusahaan memerhatikan hak konsumen sesuai yang tertuang dalam UU Perlindungan Konsumen. Merujuk dari uraian di atas, maka ketika suatu bagian/unit melakukan peran di luar tugas dan fungsinya, ada beberapa potensi yang mesti diwaspadai, bahkan bisa jadi merugikan korporasi. Seperti dalam kasus ini. Menurut Wid, ketika bagian legal menyampaikan, sekalipun benar, bisa jadi target yang menerima informasi tersebut menangkapnya dengan persepsi berbeda. Perlu keahlian khusus bagi praktisi legal untuk dapat mengubah kalimat/bahasa hukum ke dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat umum. “Pemilihan diksi itu penting sekali,” katanya. Bagian legal juga identik dengan hukum. Tidak ada orang yang nyaman jika harus berurusan dengan hukum. Perasaan was-was pun sering kali muncul ketika seseorang berhadapan dengan bagian legal. Faktor psikologis inilah yang harus dipahami oleh bagian legal. Jangan sampai tindakannya berpotensi menciderai reputasi perusahaan. Kolaborasi Untuk itu, penting adanya kerja sama dan kolaborasi antara multidisiplin dalam suatu organisasi, termasuk dengan unit public relations PR. Merekalah yang memiliki keahlian untuk menentukan pesan prioritas yang akan disampaikan kepada publik, siapa target audiensnya, siapa yang akan menyampaikan, bagaimana caranya, dengan cara apa, dan melalui kanal apa. Ya, sebagai bagian dari korporasi, antara multidisiplin harus saling bergaul. Termasuk, antara PR dengan legal. Sehingga, tumbuh perasaan saling memahami mulai dari apa yang menjadi tugas, fungsi hingga concern masing-masing. Bersyukur, krisis ini cepat melandai setelah CEO turun tangan menyampaikan surat permohonan maaf. Wid mengapresiasi tindakan cepat, akurat dan konsisten yang dilakukan perusahaan. Pernyataan maaf langsung dari CEO tersebut disampaikan kepada konsumen yang bersangkutan melalui e-mail, dan diseminasikan secara konsisten kepada masyarakat melalui akun media sosial perusahaan. Akhirnya, mengutip pernyataan konsumen yang merespons permohonan maaf dari sang CEO, “Banyak pelajaran berharga dari kasus ini. Soal PR, branding, handling crisis, dan sebagainya. Semoga jadi pelajaran berharga untuk lebih baik lagi ke depannya.” rtn Oleh Dra Paula Tjatoerwidya Anggarina, MM "ACHMAD Yurianto Terima Penghargaan Public Relations of The Year", begitulah judul yang tertulis di media online 15 Mei 2020. Mengutip dari media tersebut, juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 sekaligus Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menerima penghargaan sebagai Public Relations of The Year dalam acara Indonesia Corporate Branding PR Award 2020 yang diadakan oleh Divisi Riset Iconomics dengan kriteria penilaian berdasarkan tiga pilar citra perusahaan yaitu komersial, organisasi, dan Mulya, Direktur Riset Iconomics, mengatakan bahwa public relations PR memiliki peran penting dalam menciptakan berita positif untuk mengimbangi berita negatif saat dihadapkan pada situasi dan kondisi krisis seperti saat ini. Ketua Perhumas Agung Laksana menambahkan bahwa pandemi Covid-19 telah berdampak luas secara multidimensional. Oleh karenanya, perlu sosok PR yang lebih inovatif dan kreatif dalam menyediakan konten bagi audiensnya. Kutipan di atas dapat menjadi bahan refleksi bersama, bagaimana para praktisi PR bersikap jika dihadapkan pada situasi krisis. Apa itu krisis? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, krisis adalah keadaan yang berbahaya dalam menderita sakit parah sekali, keadaan yang genting/kemelut, keadaan suram tentang ekonomi, moral, dan sebagainya. Ada beberapa definisi "krisis" yang dikemukakan oleh para ahli. Krisis diterjemahkan sebagai sesuatu yang datang secara mengejutkan serta menghadirkan ancaman bagi organisasi, perusahaan, atau industri, begitu juga terhadap publik mereka, produk, layanan, ataupun nama baik yang sudah dimiliki Putra, 1999. Coombs 2014 mendefinisikan krisis sebagai persepsi tentang peristiwa yang tidak dapat diprediksi, mengancam harapan para pemangku kepentingan terkait dengan masalah kesehatan, keselamatan, lingkungan dan ekonomi, dan secara serius dapat berdampak pada kinerja organisasi serta menghasilkan hasil negatif. Tiga ancaman yang ditimbulkan adalah keselamatan publik, kerugian finansial, dan kehilangan reputasi. Adapun elemen-elemen krisis bersifat tidak terduga, informasi tidak mencukupi, dan cepatnya dinamika yang terjadi Argenti, 2009. Jika dilihat dari perspektif PR, krisis sebagai peristiwa atau keadaan apa pun yang berdampak negatif terhadap reputasi, kredibilitas, merek organisasi atau individu Debra Davenport, University, 2020. Dengan melihat dampak negatif yang ditimbulkan, organisasi harus segera merespons jika terjadi krisis karena penampilan organisasi berada dalam penilaian publik Putra,1999. Komunikasi dan manajemen krisis Untuk menangani krisis yang terjadi, dialog antara manajemen dengan publik diperlukan. Proses inilah yang dikenal dengan istilah komunikasi krisis. Millar & Heath 2004 berpendapat bahwa ketika krisis mulai meningkat, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah komunikasi. Komunikasi krisis sebagai pengumpulan, pemrosesan, dan penyebaran informasi yang diperlukan untuk mengatasi situasi krisis Coombs & Holladay, 2010. Dalam situasi krisis, terjadi peningkatan arus informasi yang luar biasa, sistem komunikasi kehilangan keseimbangan, kandungan emosi dalam komunikasi krisis sangat mencolok, jaringan antara komunikasi antarpribadi dan komunikasi media, serta keterikatan manusia pada media massa mengalami lonjakan besar. Dalam era media baru dan media sosial, keterikatan manusia tidak hanya sebatas pada media massa, tapi juga pada jejaring sosial. Jaringan komunikasi antarpribadi meningkat melalui jejaring-jejaring sosial Hardjana, 1998. Dalam rangka menggabungkan komunikasi krisis menjadi kerangka yang lebih strategis, sejumlah peneliti mengategorikan fungsi ini sebagai manajemen krisis. Pearson dan Clair 1998 mendefinisikan manajemen krisis sebagai upaya sistematis untuk menghindari krisis organisasi atau untuk mengelola krisis yang terjadi. Ditambahkan oleh Coombs & Holladay 2010 bahwa manajemen krisis merupakan upaya pencegahan atau mengurangi hasil negatif dari krisis dengan melalui tiga tahap, yaitu pre-crisis, response to crisis, dan post-crisis untuk melindungi organisasi serta para stakeholder. Pre-crisis Tahap ini menitikberatkan pada pencegahan dan persiapan. Pencegahan termasuk mencari cara mengurangi risiko. Adapun persiapan di antaranya membuat rencana manajemen krisis, memilih anggota tim krisis, melatih anggota tim agar dapat beradaptasi dengan krisis, mempersiapkan sosok terpercaya yang akan menyampaikan informasi pada publik. Contoh kondisi ideal pada tahap ini adalah saat masih awal penyebaran/penularan Covid-19. Aka tetapi, secara riil tahapan ini telah berlalu, di mana wabah Covid-19 telah dinyatakan sebagai pandemi yang menyebar luas dan pelayanan publik telah terkena dampaknya. Oleh karenanya membuat perencanaan manajemen krisis akan sangat membantu menentukan langkah-langkah yang tepat seperti menetapkan prosedur pelayanan publik jika terjadi krisis yang lebih besar di kemudian hari. Response to crisis Tahap kedua, manajemen harus bertindak langsung merespon krisis. Rencana yang sudah disusun benar-benar diimplementasikan. Respons krisis merupakan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh manajemen saat krisis terjadi. PR memegang peranan penting dalam merespons krisis tersebut, salah satunya membantu dan mendampingi proses pengembangan pesan yang dikirim atau disampaikan ke publik. Post-crisis Tahap ketiga adalah tahap di mana perusahaan atau organisasi dapat kembali menjalankan bisnisnya seperti semula. Meski krisis tidak lagi menjadi perhatian utama, tetapi tetap membutuhkan perhatian lebih lanjut. Organisasi diharapkan dapat memenuhi komitmen yang telah dibuat saat krisis dan disampaikan kepada masyarakat atau pihak terkait untuk informasi lanjutan. Krisis dapat menjadi proses pembelajaran bagi organisasi untuk mencari cara lebih baik jika hal serupa terjadi di masa depan. Contoh tahap post-crisis jika dihubungkan dengan situasi saat ini adalah masih diberlakukannya kebijakan work from home untuk mengurangi risiko penularan Covid-19. Pengambil kebijakan perlu memiliki guidelines yang tepat guna mendukung efektivitas kerja atau belajar dari rumah. Rencana strategis krisis harus didasarkan pada koordinasi antara fungsi manajemen, operasional, dan komunikasi. Rencana darurat ada dalam dua bidang parallel yaitu respons operasional dan respon komunikasi di mana tim respons operasional berfokus pada penyelesaian masalah secepat mungkin dan tim komunikasi bertanggung jawab menginformasikan kepada kelompok pemangku kepentingan utama organisasi untuk memastikan pemahaman dan dukungan mereka dipertahankan Kadarova, et al, 2015. Peran public relations PR saat krisis pandemi Covid-19 yang mulai merebak di awal tahun 2020 telah menimbulkan krisis ke berbagai aspek berupaya cepat melakukan tindakan pencegahan antara lain dengan membuat aturan atau imbauan kepada masyarakat untuk bekerja dan belajar dari rumah, beribadah di rumah, memulai hidup sehat dengan sesering mungkin mencuci tangan dan muka, menggunakan hand sanitizer, mengonsumsi makanan sehat serta perbanyak olahraga, mengenakan masker, jaga jarak, dan lain sebagainya. Aturan atau imbauan ini harus dikomunikasikan secara efektif kepada masyarakat agar dipahami dan dipatuhi. Oleh karenanya, dibentuklah tim public relations PR yang bertugas selain mengomunikasikan aturan atau imbauan tersebut, juga untuk menjalin hubungan baik antara masyarakat dan pemerintah. Elemen komunikasi sangat dibutuhkan di masa pandemi seperti saat ini agar penyampaian informasi menjadi efektif. PR dituntut beradaptasi dengan cepat, berinteraksi dengan metode baru, melahirkan program yang kreatif, inovatif, dan dikemas dengan storytelling menyentuh hati Putra, 1999. Penyampaian konten yang empatif dapat menciptakan trust dan persepsi positif Imam Suryanto, Founder/CEO Bright Up Indonesia. Pertanyaan kepada pihak media harus dijawab dengan cepat, akurat, terbuka, dan konsisten Coombs & Holladay, 2010. Terlebih dengan terbatasnya interaksi dan pergerakan manusia yang ditimbulkan karena pandemi, PR juga harus mengoptimalkan teknologi digital misalnya dengan meningkatkan penggunaan media sosial, seperti website, Instagram, Twitter, Facebook, podcast, Youtube, dan e-mail. Saat krisis terjadi, publik ingin tahu apa yang terjadi. Ketika suatu organisasi dilanda krisis dan tidak berbicara ke media, maka orang lain di luar organisasi dengan senang hati akan memberikan pendapatnya ke media. Hal ini tentu perlu dihindari. Oknum tersebut bisa saja memberi informasi yang tidak akurat dan tidak sesuai dengan kepentingan organisasi. Oleh karenanya, organisasi dituntut untuk merespons krisis dengan cepat. Pesan kunci yang disampaikan oleh organisasi juga perlu memberikan isi yang akurat dan disampaikan secara konsisten. Konsisten yang dimaksud adalah jangan sampai anggota organisasi memberikan informasi yang berbeda dengan anggota lainnya. Semuanya harus sepakat untuk menyampaikan satu suara. Usaha untuk membentuk pesan kunci yang konsisten juga termasuk ke dalam bentuk manajemen krisis. Memang tidak mungkin dalam situasi krisis hanya satu orang saja yang berbicara untuk mewakili perusahaan atau organisasi. Bagaimanapun, tim komunikasi krisis harus memastikan bahwa juru bicara yang berbeda akan memberikan pesan yang konsisten. Prinsip keterbukaan merupakan prinsip yang kontroversial. Kontroversi muncul akibat interpretasi yang berbeda terhadap pemahaman keterbukaan. Interpretasi pertama, keterbukaan berarti orang-orang dalam organisasi yang berwenang memberikan pernyataan selalu siap dan bersedia berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan, terutama bahwa organisasi sangat tertutup, berusaha menyembunyikan sesuatu, atau tidak mampu menangani krisis. Interpretasi kedua, keterbukaan adalah pengungkapan secara terbuka sepenuhnya full disclosure, yakni organisasi harus mengatakan semua yang diketahui tentang krisis segera setelah mendapatkan informasi. Kepentingan hukum terkadang merekomendasikan keterbukaan secara terbatas limited disclosure karena pengungkapan secara terbuka sepenuhnya dapat membawa organisasi ke masalah hukum dan kerugian finansial. Organisasi sebaiknya menyeimbangkan perhatian terhadap pemangku kepentingan finansial misal pemegang saham atau pemberi pinjaman dengan perhatian kepada pemangku kepentingan yang mengalami kerugian akibat krisis misal anggota komunitas, pelanggan, atau karyawan. Selain kecepatan, keakuratan, keterbukaan dan konsistensi dalam menyampaikan informasi, salah satu tugas PR yang lain adalah mengklarifikasi pemberitaan di media yang tidak seimbang. Pemberitaan media atau isu yang beredar bisa jadi benar atau tidak, berpotensi memengaruhi citra seseorang atau organisasi Nova & Firsan, 2011. PR harus memastikan komunikasi berjalan dengan baik dan solid di kalangan internal maupun eksternal Ratna Kartika, 2020. Jawaban no comment dari seorang PR tidak dapat diterima karena hal ini dapat diinterpretasikan sebagai ekspresi dari rasa bersalah, keangkuhan, ketakutan, dan melalaikan tanggung jawab. Praktisi PR harus memiliki standar etika, kualitas, akuntabilitas, integritas, dan profesionalisme. Terlebih di saat krisis, seringkali harus mengembangkan dan mempelopori respons organisasi yang dapat mencakup penulisan pidato untuk CEO, mengelola konferensi berita, menyiapkan resposn media, meyakinkan audiens internal dan eksternal, serta berkonsultasi dengan tim eksekutif dan dewan direksi. Hal yang menjadi tantangan utama PR adalah ketika memberikan nasihat kepada CEO sehubungan dengan respons publik organisasi Debra Davenport-Purdue University, 2020. Grunig 1992 juga mengatakan bahwa PR harus memiliki perencanaan strategis dan berperan dalam pengambilan keputusan melalui pemberian nasihat kepada CEO untuk meningkatkan hubungan dengan para pemangku kepentingan. Dengan memahami peran PR yang telah diuraikan, PR profesional harus mengembangkan ketrampilan kepemimpinan yang unggul. Dalam situasi krisis setiap orang akan meminta nasihat, arahan, dan bimbingan dari eksekutif PR Debra Davenport-Purdue University, 2020. Menjadi jelas bahwa PR memiliki peran kritikal dalam berbagai aspek sehingga menjadi amat strategis dan penting. Idealnya fungsi PR adalah perpaduan fungsi manajemen dan fungsi komunikasi. Sebagai fungsi manajemen, PR bertanggung jawab mengelola dan mengembangkan reputasi perusahaan, dan sebagai fungsi komunikasi, PR mengembangkan komunikasi antara organisasi dan publik untuk menciptakan dan mempertahankan goodwill dan mutual understanding public terhadap tujuan, kebijakan, dan kegiatan organisasi Nova & Firsan, 2011. Siapa yang sebaiknya menyampaikan informasi di saat krisis? Barton 2001 mengidentifikasi tim krisis dapat terdiri dari unsur PR, hukum, keamanan, operasional, keuangan, dan human resources SDM. Namun, komposisi tim ini dapat bervariasi tergantung dari sifat krisis. PR memainkan peran penting dalam mempersiapkan juru bicara untuk menangani pertanyaan-pertanyaan dari media massa. Kondisi krisis menyebabkan media menjadi hal penting yang dapat dimanfaatkan organisasi. Juru bicara atau spokesperson yang dipercaya oleh organisasi harus bertemu dengan media pada tahap awal krisis untuk menyebarluaskan informasi dan berpartisipasi dalam membingkai krisis. Dalam Strategy Insight Public Relations 2020 dikatakan bahwa sebaiknya yang menyampaikan informasi atau menjadi juru bicara saat krisis adalah CEO. Dalam krisis tingkat parah atau melibatkan cedera/kematian, CEO harus menjadi wakil organisasi untuk segera bertindak dan mengklarifikasi, serta menyatakan tanggung jawabnya untuk korban; Public relations PR. PR adalah pilihan yang sangat baik sebagai wakil organisasi di jam-jam pertama saat krisis terjadi dan wartawan mulai berdatangan. Namun, PR tidak harus menjadi suara tunggal seluruh krisis. Sebaiknya orang dalam divisi PR menjadi anggota dari tim manajemen krisis, terutama saat krisis komunikasi sangat diperlukan; Jajaran manajemen. Jika orang PR diperlukan untuk memberikan informasi pada jam-jam pertama saat krisis, jajaran manajemen dapat mengambil alih di jam-jam berikutnya. Jika diperlukan, jajaran manajemen dapat menjadi juru bicara saat krisis sedang berlangsung. Baru pada saat jumpa pers, CEO dapat tampil sebagai juru bicara. Dra Paula Tjatoerwidya Anggarina, MMKepala Hubungan Masyarakat dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tarumanagara Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Jakarta, - Pandemi Covid-19 sudah setahun lebih berlalu sejak kasus pertama resmi diumumkan Presiden Joko Widodo Jokowi pada Maret 2020 lalu. Adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar PSBB juga mengubah pola kerja Public Relations PR. Dalam focus group discussion FGD “Susah-susah gampang bikin jumpa pers di masa Pandemi” Senin 28/6/2021 terungkap bahwa peluang industri public relations bakal semakin cerah terutama menjelang tahun 2022. Menurut Managing Director of Hill+Knowlton Strategies Indonesia Harry Deje prospek PR Agency semakin membaik apabila dibandingkan dengan tahun 2020. “Jauh lebih baik 2021, dari awal tahun itu, bahkan beberapa industri yang tahun 2020 drop jauh itu sudah mulai berani melakukan investasi ulang di PR. Outlook-nya sangat bagus untuk PR industry saat ini,” papar Harry. Karena setelah jatuh pada tahun 2020, tetapi tahun 2021 sangat bagus outlook-nya. “Mudah-mudahan 2022 itu bisa lebih tinggi lagi karena kalau melihat plan-nya dengan vaksinasi sudah roll out, orang sudah semakin kreatif secara teknologi, kelihatannya opportunity-nya akan semakin terbuka,” ujar Harry. Sementara itu Ketua Asosiasi Perusahaan PR Indonesia Jojo S Nugroho menyatakan bahwa pihak asosiasi untuk mendorong PR Industry untuk melakukan pemetaan industri yang secara kinerja masih bagus lalu masuk ke dalamnya. “Soal PR ke depan, saya kira perlahan-lahan kita akan membaik tahun ini. Mungkin kita masih berusaha untuk menentukan posisi, tetapi 2022 tahun depan rasanya, mudah-mudahan sudah membaik dan harapannya sudah back to normal ya,” kata Jojo. “Rasanya hampir dua tahun kita belajar mengatasi krisis ini, ya harusnya bisa kembali ke normal. Kita sudah bisa berkawan dengan pandemi. Live must go on,” pungkas Jojo. Sumber Saksikan live streaming program-program BTV di sini SEBANYAK enam pegawai Holywings ditangkap polisi dan terancam hukuman penjara 10 tahun. Nasib malang menimpa mereka akibat melaksanakan strategi promosi yang dianggap menista agama tertentu. Salah satu pemegang saham cum selebriti Hotman Paris membantah adanya keterlibatan pimpinan Holywings atas promosi yang menuai kontroversi tersebut. Dalam kacamata public relations PR, kasus yang dihadapi Holywings dapat dikategorikan sebagai krisis. Secara umum, krisis dapat didefinisikan sebagai kejadian terkontrol maupun tidak terkontrol yang dapat merusak citra dan reputasi organisasi di dalam benak para pemangku kepentingan stakeholder. Baca juga 250 Personel Satpol PP Diterjunkan untuk Segel 12 Outlet Holywings di JakartaDi setiap krisis, ada tiga upaya yang berusaha dilakukan oleh organisasi, yakni meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa tidak ada krisis yang terjadi, meminimalisir asumsi negatif berlebihan atas krisis, dan mengingatkan kembali sisi positif organisasi pra-krisis. Demi mewujudkan tiga upaya tersebut, Coombs 1998 memetakan tujuh strategi komunikasi krisis. Pertama, menyerang penuduh attack the accuser yakni melakukan konfrontasi pada individu atau kelompok yang klaim bahwa terjadi krisis. Tingkat ekstremnya strategi ini bisa dimulai dengan melakukan gugatan hukum hingga ancaman pada penuduh. Strategi kedua ialah menyangkal denial, yang umumnya dilakukan ketika organisasi meyakini tidak ada krisis yang terjadi dengan penjelasan-penjelasan logis. Strategi ketiga adalah mengakui adanya krisis disertai alasan excuse manakala krisis yang terjadi berada di luar kontrol organisasi. Strategi keempat berfokus pada justifikasi yang berpusat pada sisi positif yang tampak dari kelima yaitu bersikap dan berlaku baik ingratiation agar pemangku kepentingan tetap menyukai organisasi. Strategi keenam adalah aksi-aksi untuk mencegah krisis yang sama terulang kembali corrective action. Terakhir, strategi meminta maaf secara menyeluruh full apology dan umumnya menunjukkan keseriusan permintaan maaf dengan memberikan kompensasi bagi yang terdampak atas krisis tersebut. Melihat penjelasan dari tujuh strategi di atas, secara kasatmata Holywings menerapkan strategi denial dan permintaan maaf. Meski demikian, melihat perkembangan kasus yang masih terjadi, kedua strategi yang diambil masih belum efektif meredam krisis yang terjadi. Coombs dan Holladay 1996 menjelaskan bahwa krisis tidak hanya dibatasi pada kasus semata, melainkan juga persoalan intepretasi dari para pemangku kepentingan. Masyarakat umum adalah salah satu pemangku kepentingan yang tentunya memiliki pandangan atas kasus Holywings. Misalnya saja, bisa timbul kesan cuci tangan pimpinan Holywings terhadap para pekerjanya. Dalam penangangan krisis di level organisasi seperti Holywings, sisi internal tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Rasa persatuan morale dari para karyawan di Holywings juga perlu mendapat perhatian karena mereka juga termasuk salah satu pemangku kepentingan. WIRYONO Upacara persiapan penyegelan 12 outlet Holywings oleh Satpol PP DKI Jakarta di Lapangan Balaikota DKI Jakarta, Selasa 28/6/2022.Belajar dari Kasus Domino’s Pizza Pada 2009, Domino’s Pizza di Amerika Serikat AS menghadapi krisis yang terjadi di luar kontrol organisasi. Dua pegawai di cabang Conover, Carolina Utara membuat video prank manakala menyiapkan pizza dengan cara-cara tidak higienis. Kemudian, video tersebut diunggah ke YouTube. silviaanityasiwi 4 out of 5 dentists recommend this site Main menu Post navigation ← Previous Next → kasus yang pernah dialami oleh perusahaan Johnson & Johnson’s, yang bermula pada meninggalnya delapan orang penduduk Chicago – AS pada tahun 1982, dan disusul dengan kejadian serupa pada tahun 1986 yang menewaskan satu orang secara misterius, dimana hasil otopsi yang dilakukan oleh tim forensik menunjukkan bahwa kesemua orang tersebut meninggal diakibatkan oleh racun “sianida”, yang dimasukkan secara sengaja oleh orang yang tidak bertanggung jawab ke dalam kapsul obat merek Tylenol yang notabene diproduksi oleh Johnson & Johnson’s. Belakangan diketahui bahwa orang yang memasukan racun sianida tersebut adalah mantan karyawan perusahaan yang sakit hati karena di PHK. Berita tewasnya penduduk Chicago itu tersebar cepat melalui media massa sehingga mengakibatkan kepanikan di tengah masyarakat, khususnya kalangan stakeholder seperti pihak rumah sakit, dokter, pasien, maupun apoteker. Di sisi lain, dalam bursa saham, harga saham Johnson & Johnson’s turun hingga 15% dalam periode 30 hari setelah berita tersebut tersebar di media massa, namun untungnya harga saham kembali menguat selang 60 hari pasca upaya penyelesaian krisis dengan upaya penanganan langkah yang tepat, yang dilakukan oleh pihak managemen. Management perusahaan Johnson & Johnson’s bersama dengan departemen public relationsnya melakukan serangkaian upaya berbasis dua hal, yaitutindakan dankomunikasi, sebagai upaya respon cepat perusahaan terkait masalah yang mereka hadapi saat itu, antara lain 1. Memberikan peringatan dan mempublikasikan kepada masyarakat luas melalui media massa untuk ”menghentikan” mengkonsumsi kapsul merek Tylenol hingga diketahui secara pasti diwilayah pemasaran mana saja terdapat penyebaran kapsul beracun itu terjadi walaupun akhirnya diketahui wilayah penyebaran kapsul beracun tersebut hanya terjadi di Chicago saja. 2. Menghentikan kegiatan produksi kapsul Tylenol, dan menghentikan pula iklan produk obat tersebut di media massa. 3. Menjalin hubungan atau melakukan kontak dengan aparat keamanan, serta badan POM pengawas obat dan makanan. 4. Menarik seluruh kapsul Tylenol dari peredaran tanpa terkecuali, di seluruh AS dan di 14 negara bagian lainnya, untuk kemudian dilakukan pemusnahan massal, yaitu sebanyak 31 juta botol dengan estimasi nilai lebih dari US$ 100 juta. 5. Merancang dan memproduksi kemasan kapsul yang baru, dimana tahan terhadap bocor dan tidak mudah untuk ditembus oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 6. Mengembalikan kapsul Tylenol kemasan baru ke pasaran. 7. Melakukan upaya promosi kembali yang lebih intensif, guna meyakinkan konsumen atas keamanan, keselamatan, dari kemasan baru yang kini jauh lebih baik. Setelah melihat ketujuh poin hal – hal yang dilakukan perusahaan Johnson & Johnson’s diatas, kini kita dapat membagi menjadi dua hal, yaitu hal yang merupakantindakan ditandai dengan poin 2, 4, 5, 6, dan hal – hal yang merupakankom unikasi ditandai dengan poin 1, 3, 7 Strategi komunikasi communication strategy harus pula menukung program aksi / tindakan action program, dimana meliputi serangkaian tindakan antara lain 1. Memberi-tahukan kepada khalayak sasaran, baik internal maupun eksternal mengenai tindakan apa yang akan / sedang dilakukan oleh perusahaan. 2. Membujuk khalayak sasaran untuk dapat menerima dan mendukung tindakan yang akan / sedang dilakukan oleh perusahaan. 3. Mendorong khalayak sasaran yang sudah memiliki sikap mendukung atau menerima untuk melakukan tindakan. Terkait dengan strategi yang dilakukan oleh perusahaan Johnson & Johnson’s, terdiri atas komponen strategi yang meliputi 1. Strategi Khalayak antara lain, konsumen, dokter, staf, apoteker, karyawan rumah sakit, badan POM, pihak keamanan kepolisian, dan media massa. 2. Strategi Pesan dimana diawali dengan kegiatan mengumpulkan fakta mengenai produksi kapsul Tylenol di wilayah Chicago, bekerja sama secara penuh dengan badan POM, dan kepolisian; lalu melakukan upaya meyakinkan berbagai pihak melalui pesan yang disebarkan, bahwa perusahaan secara sungguh – sungguh ingin dan akan memecahkan masalah yang terjadi. 3. Strategi Media berusaha merespon krisis Crisis Response dengan cara terbuka openess dan jujur terus terang dengan media massa dalam kegiatan penyampaian fakta kepada masyarakat secepat mungkin quick. Selain itu perusahaan ini melakukan jumpa pers terkait kasus racun ”sianida” kapsul Tylenol kepada media massa di 30 kota di seluruh AS melalui hubungan via satelit. Lalu menunjuk satu juru bicara sehingga seluruh informasi hanya bersumber dari satu orang consistent.

kasus public relations terkini